GORESAN PENA

Titik Nol Hati: Liburan yang Lebih Awal

26 Desember 2017

Tempat itu adalah restoran bintang 5 terbaik dan termewah di kota Jakarta. Lokasinya yang berada di rooftop sebuah gedung tertinggi, menjadikannya pilihan paling ideal untuk segala macam acara yang membutuhkan nuansa romantis.

Beratapkan langit yang bertaburan bintang. Dengan pemandangan kota Jakarta di malam hari yang tidak pernah terlelap dan selalu semarak dengan jutaan kerlip lampu. Udara yang terasa dari atas sana adalah sekelumit kesegaran yang makin jarang bisa ditemui di kota Jakarta yang semakin tergerus polusi.

Menu-menu makanannya adalah yang terbaik dan ciri khas dari berbagai kota besar di 5 benua. Bahkan bahan makanan dan koki nya pun langsung diimport dari negara tersebut. Tidak heran jika untuk bisa menikmati pengalaman makan mewah rasa 5 benua tersebut, para pengunjung kadang harus melakukan reservasi 1 minggu sampai 1 bulan sebelumnya.

Rakha Pradhika menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat seksama untuk acara malam ini. Dia memesan buket bunga mawar putih kesukaan kekasihnya, Shakila. Sekelompok musisi disewa khusus untuk mengiringi makan malam di hari jadi mereka yang ke 2 itu.

Dan tentunya, sebuah hadiah spesial yang akan menyempurnakan semuanya.

“Ini indah sekali, sayang.“ Shakila hampir tidak bisa berkata-kata mendapati restoran tempatnya berada sekarang disulap macam kebun bunga yang penuh dengan mawar putih.

“Kamu suka?“ tanya Rakha sambil memberikan buket bunga mawar putih kepada Shakila.

Shakila menerimanya dengan berbinar-binar, kemudian menghirup harumnya. “Suka banget.“

Malam itu berjalan dengan sempurna, sesuai dengan yang diharapkan Rakha.

Tiba di menu penutup, seorang pelayan datang membawakan hidangan dan meletakkannya di hadapan Shakila.

“Apa ini?“ tanya Shakila heran, sambil memandangi sebuah piring dengan penutup hidangan di depannya.

“Buka saja.“

Shakila membukanya perlahan, dan hampir pingsan mendapati sebuah cincin berlian cantik di kotak perhiasan ungu tua .

“Ini … untuk aku?“ Shakila tergagap.

Rakha mengambil cincin tersebut kemudian memakaikannya di jari manis Shakila.

“Memang betul sekali. Diamond is woman’s best friend,“ gumam Rakha.

“Ini terlalu indah sayang.“

“Tidak lebih indah dari 2 tahun yang sudah aku jalani bersamamu.“

Senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah cantik Shakila. Dia sudah menduga, malam ini akan jadi malam yang sangat spesial. Dia bahkan bisa merasa kalau Rakha akan segera melamarnya.

“Terimakasih kamu sudah menemani aku selama ini. Menerima segala kekuranganku dan tetap mencintaiku.“

Rakha menggenggam tangan Shakila lembut.

“Aku ingin memberikan kenangan yang indah malam ini. Karena mulai malam ini, aku ingin kita …,“ Rakha menggantung kalimatnya.

Shakila menanti Rakha melanjutkan kalimatnya dengan tidak sabar.

“Cepat katakan sayang. Aku akan menjawab iya untuk lamaran kamu.“ Shakila membatin.

“Mulai malam ini … aku ingin kita putus.“

Kalimat Rakha tenang dan tegas. Membuat Shakila mendadak linglung mendengarnya.

“Kamu … bercanda kan, sayang?“

Rakha melepaskan genggamannya. “Aku serius.“

“Tapi … kenapa?“ tanya Shakila putus asa.

“Kamu tahu betul. Bagiku, tidak ada maaf untuk sebuah pengkhianatan!“

“Aku, aku tidak mengerti maksud kamu.“ Shakila mulai gelagapan.

“David.“

Satu nama itu sudah menjelaskan semuanya. Shakila menerka-nerka, pada saat mana kiranya Rakha memergokinya sedang berjalan bersama David.

Bagi Rakha mendapatkan informasi apapaun sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan.

Rakha tidak pernah memergoki langsung Shakila berselingkuh. Tapi teman dan kenalannya tersebar di mana-mana dan tidak pernah kehabisan cara untuk berusaha mengambil hati Rakha. Salah satunya dengan menginformasikan apapun yang mereka lihat dan mereka ketahui mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Rakha.

“Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Itu tidak seperti yang kamu bayangkan.“

Raka mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada Shakila untuk menghentikan segala ucapannya.

“Aku tidak punya waktu. Mulai sekarang, kita tidak perlu bertemu atau komunikasi lagi!“

Rakha bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Shakila yang masih nelangsa.

Sambil menuju lift, Rakha mengambil ponsel dari saku jasnya, kemudian menekan sebuah angka.

“Jo, siapkan semuanya. Besok kita berangkat ke Anyer.“

Di sebrang sana, Johan yang merupakan sahabat Rakha sejak masih kecil, terbengong-bengong.

“Lho … bukannya masih tiga hari lagi kita berangkat liburan akhir tahunnya?“

No. Kita berangkat besok.“

“Artinya kita bakal semingguan liburan di Anyer?“

Yes.“

“Rapat kamu dan segudang agenda lainnya, bagaimana?“

Cancel. Mari lakukan semuanya di tahun depan.“

Ok, Dude. Let’s have fun.“

Rakha menutup sambungan teleponnya sambil menghembuskan nafas lega. Seperti ada beban berat di pundaknya yang mendadak terangkat. Rakha merasa lebih ringan. Atas segala kejadian melelahkan yang dialaminya belakangan ini, rasanya sangat wajar ia diganjar liburan yang lebih awal.

Seminggu di Anyer, semoga bisa mejernihkan otaknya dan menghibur segala penat hatinya.

***

27 Desember 2017

“Maaf mengganggu liburanmu, Kana.“ Pak Darma, General Manager Hotel Senja Anyer menyambut Kana yang baru saja tiba di ruang kantor.

“Tidak apa-apa, Pak.“ Kana tersenyum memaklumi sambil menarik kursi di hadapan meja Pak Darma.

Posisinya sebagai Guest Relation Officer Manager memang menjadikannnya manusia paling dicari ketika ada tamu-tamu penting di Hotel Senja Anyer.

“Jadi begini, Kana. Kamu tahu kan, minggu depan kita akan kedatangan rombongan tamu istimewa. Masih kolega Pak Syarif.“ Pak Darma memulai penjelasannya.

Kana mengangguk.

Pak Syarif adalah pemilik Hotel Senja Anyer. Dan yang akan bertamu adalah anak tunggal dari Pak Bratha Pradhika, sahabat baik Pak Syarif, yang merupakan pemilik Pradhika Grup. Salah satu pengusaha pribumi paling sukses di Indonesia. Kabar itu sudah menyebar di seantero hotel sejak pertama kali Pak Darma menerima info dari Pak Syarif.

“Nahhh … pagi tadi saya baru saja menerima telepon pemberitahuan kalau mereka memajukan jadwal liburannya dan akan tiba di hotel sore nanti.“

“Kok, mendadak begitu, Pak? “

“Itu dia, Kana. Anak Pak Bratha mengubah rencana liburannya.“

Pak Darma mengelap kepalanya yang mulai jarang ditumbuhi rambut dengan sapu tangan.

“Untung rombongan turis Belanda itu sudah checkout kemarin sore, jadi bungalow VIP nya sudah kosong,“ gumam Pak Darma.

“Kita punya waktu berapa lama sampai mereka tiba, Pak?“

“Sekitar 6 jam.“

“Oke, itu sudah cukup. Saya akan siapkan semuanya dan memastikan untuk memberikan service terbaik.“

Pak Darma tersenyum lega. Kana memang selalu bisa diandalkan.

***

Kana tidak punya waktu banyak untuk mempersipakan 3 bungalow VIP bagi rombongan tamu istimewa mereka.

Didampingi Risma, Guest Relation Officer Junior yang digadang-gadang kecerdasan dan kecakapannya mampu mengikuti jejak Kana, mereka bergerak cepat mengecek segala persiapan menyambut tamu istimewa tersebut.

“Pak Rakha punya alergi bulu, Mbak,“ ucap Risma ketika mereka sedang mengecek Bungalow Krakatau, bungalow terbaik di Hotel Senja Anyer.

Kana membaca catatannya. “Stok bantal dan selimut khusus kita masih?“

“Tinggal sedikit, Mbak. Untung Cuma Pak Rakha saja yang alergi.“

Kana menatap Risma tajam. “Kok, bisa stoknya tinggal sedikit? Kita dalam masa liburan akhir tahun, lho.“

Risma menelan ludah tegang. Kana memang sangat tegas kalau urusan pekerjaan, meskipun aslinya dia orang yang sangat baik.

“Ada kendala di vendor, jadi mereka terlambat memenuhi PO yang kita ajukan.“

Kana masih diam menatap Risma. Itu bukan jawaban yang di inginkannya.

“Saya akan pastikan besok sudah dikirim, Mbak,“ sambung Risma.

Oke.“

Kana berjalan menuju kamar mandi, dilihatnya beberapa karyawan sedang meletakkan berbagai macam peralatan mandi dengan merek tertentu seperti yang diminta oleh tamu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Pak Lukman, Food and Beverage Manager terpampang dilayar.

“Iya, Pak Lukman.“

“Untuk menu-menu yang diminta, ada beberapa bahan yang habis, Mbak. Pengiriman stok kembali baru lusa.“

“Bisa didapatkan di Cilegon?“

“Tidak bisa, Mbak. Hanya ada di beberapa tempat di Jakarta.“

Kana menoleh ke Risma, sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Adit masih di Jakarta?“

“Masih, Mbak. Baru besok akan kembali kesini.“

Kana mengangguk lalu kembali mendekatkan ponselnya.

“Pak Lukman, tolong kirim daftar bahan yang dibutuhkan ke saya sekarang, yah.“

“Baik, Mbak.“

Kana mematikan ponselnya. Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke WA. Kana membukanya, lalu meneruskannya ke nomor Adit. Kemudian dia menelpon Adit.

“Aku barusan kirim daftar bahan yang kita butuhkan. Kamu harus mendapatkan semuanya dalam waktu 1 jam, terus langsung kirim kesini.“ Kana memberikan instruksi kepada Adit, Chief Engineer Hotel yang masih seusia dengannya.

Kana memperkirakan paling lambat dalam 4 jam, bahan-bahan itu sudah bisa sampai ke hotel.

“Siap boss!“ jawab Adit mantap. Dia tahu, dia tidak bisa banyak tanya apalagi menolak. Kalau Kana yang sudah meminta, berarti betulan penting.

***

Kana membetulakan letak name tagnya dan sekali lagi mematutkan dirinya di depan cermin.

Setelan seragam berwarna hitam dengan aksen batik Banten berwarna gold di bagian leher dan di rok panjangnya, melekat sempurna di badan Kana yang terbilang imut. Rambutnya yang hitam dicepol rapi. Riasan wajah yang minimalis dan natural, terlukis cantik di kulit wajahnya yang termasuk cukup cerah untuk ukuran gadis pesisir pantai.

Kana berlari menuju lobby hotel. Terlihat Pak Darma dan jajaran staff nya sudah berdiri rapi di depan pintu masuk hotel. Kana langsung mengambil posisi di sebelah kiri Pak Darma.

“Terimakasih, Kana. Kamu sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik,“ bisik Pak Darma begitu Kana tiba.

“Setelah mereka pulang dengan puas dan rasa bahagia, baru bapak bisa berterimakasih pada saya,“ balas Kana sama berbisiknya.

Pak Darma hanya tertawa kecil.

Rombongan tamu istimewa itu tiba tidak lama kemudian. Pelataran hotel mendadak jadi seperti dealer khusus mobil mahal. Kini di hadapan Kana berderet rapi mobil mewah dari berbagai merek ternama.

Yang paling depan berdiri gagah Lamborghini Aventador white, disusul dengan Ferarri Spider red, Hummer H3 black, dan terakhir Porsche Cayman Grey.

Seorang pria muda dengan setelan celana jeans biru, atasan polo shirt putih serta mengenakan kacamata hitam, keluar dari mobil Lamborgini. Disusul oleh rombongan lainnya.

“Selamat datang Pak, Rakha.“ Pak Darma dengan sigap menyambut Pria itu dan mengulurkan tangannya.

Rakha membalas jabat tangan Pak Darma dengan sopan.

“Kami senang sekali bisa melayani Pak Rakha seminggu kedepan.“

“Saya cuma berlibur dengan teman-teman. Tidak perlu repot-repot ya, Pak. Anggap saya tamu biasa seperti yang lain.“

“Sudah kewajiban kami memberikan pelayanan terbaik dan berkesan bagi semua tamu,“ balas Pak Darma sambil tersenyum.

“Ini Kana, dia GRO Manager kami. Apapun yang Pak Rakha butuhkan, Bapak bisa langsung menghubungi Kana,“ lanjutnya sambil menunjuk Kana.

Rakha melepas kacamatanya kemudian memandang Kana yang sedang menjulurkan tangan padanya.

“ Selamat datang, Pak Rakha,“ sambut Kana lalu menjabat tangan Rakha.

“ Terimakasih …. Ibu Kana Kamila,“ Balas Rakha sambil membaca tag name di dada Kana.

Bersambung …

Anda mungkin juga suka...

19 Komentar

  1. Orang kaya mah bebas ya, mau putus z ngasih diamond dulu. Eh, tapi itu asli apa palsu? Hehe
    Ditunggu kelanjutan kisah Rhaka sama Kana.

  2. yaah kaget aku mba.. kok bersambung hehe. endingnya rakha bakal sama kana berarti yaa?

  3. Saya menduka Kana punya hubungan dengan Syakila hehehe

  4. Saya menduga Kana punya hubungan dengan Shakila hehehe

  5. Ceritanya mengharukan & cerita nggak ketebak.

    Kekasih Shakila sebenarnya baik, tapi Shakila suka selingkuh, jadi lebih baik putus haha tapi dg drama, mungkin di pikiran Shakila, kamu baik sekali mengajak ke pesta memberikan berlian padahal itu tanda berakhirnya hubunggan, karena perselingkuhan.

  6. Penasaran aku sama endingnya mbak…

  7. Wah awal cerita yang super epik mbaaa, bisa jadi bikin pensaran bacanya karena awal cerita plotnya udah ngetwist. Hihi

  8. bacanya pelan-pelan banget berasa lagi baca novel, penasaran sama sambungan ceritanya, jadi bayangin film-film pas baca Rakha turun dari mobil, kayak di film-film china itu heheh

  9. Wah, akankah ada bibit-bibit asmara antara Kana dan Rakha hehe… sok nebak aja aku. Kenapa aku ngerasa hawanya agak drakor ya, apa perasaanku aja.

  10. Mbak, asli daku sukaaa banget. Penasaran dengan ceritanya. ALurnya mengalir dan deskripsi orkay dan sosok Kana yang tegas dapet banget. Keren nih teknik showingnya. Lanjutkan Mbak…daku mau baca.

  11. Damar Aisyah says:

    Apakah Rakha bakalan jalan bareng Kana? Hehehe. gak nyangka bersambung euy. Jadi pesanaran.

  12. Bersambung ya Mbak. Kisah selanjutnya bagaimana ya? Apa yang bakal terjadi antara Kana dan Rakha. Sepertinya bakal jadi kisah yang serius nih. hehe.

  13. Duh putus dapet cincin berlian. Trus iki piye ceritanya nyambung kah. Kepo banget haha

  14. Aku mencium aroma Rakha ntar sama Kana. Iya nggak sih?

  15. hyaaa, bersambung…
    jadi penasaran ini Mbak digantung, ehhh..
    endingnya gimana ya nanti? 😀

  16. Wahhh, enggak sadar, tahu-tahu malah bersambung. Hayoo mba, ditunggu nih lanjutannya. Penasaran, kira2 apa yg bakal terjadi ya antara Rakha dan Kana, hehe

  17. Gimana perasaan wanita yang diputus pakai cincin berlian? Pasti sakit dan nyesel banget..hiyaaaaaa

  18. Fenni Bungsu says:

    Jadi Rakha gimana nih kelanjutannya? Eaa, kan, semoga bisa baca lagi nih sambungan ceritanya

  19. Ceritanya menghanyutkan..
    Awalnya tidak menyangka bila akhirnya malah Rakha memutuskan Sakhila. Sungguh jalan pikiran yang tidak seperti kebanyakan.
    Cerita kedua, seru, ingin terus membaca kelanjutannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *